Jumat, 11 November 2011

REISHA: Epilog: Counting Down to April 1st, 2010

Februari 2009, bisa dibilang titik di mana saya mulai berpikir untuk mendaftar beasiswa Monbukagakusho. Maret 2009, saya mulai mencari-cari info dan menunggu-nunggu pendaftaran dibuka di website kedubes Jepang. [informasi beasiswa]
21 April 2009, saya baca email di milis bahwa pendaftaran beasiswa Monbukagakusho sudah dibuka sejak sehari sebelumnya. Saya harus menyiapkan segala persyaratan dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. [seleksi dokumen]
8 Juli 2009, saya diberi tahu bahwa saya lulus seleksi dokumen, dan berikutnya harus mengikuti tes tertulis dan wawancara. 13 Juli 2009 jadwal [tes tertulis] saya, dan 17 Juli 2009 jadwal [wawancara] saya.
31 Juli 2009, saya diberitahu bahwa saya lulus ke tahap berikutnya. Saya harus menyiapkan lagi semua berkas yang dibutuhkan. [secondary screening]
28 September 2009, saya menerima Letter of Acceptance (LA) dari Profesor Fukazawa Yoshiaki, Graduate School of Fundamental Science and Engineering, Waseda University. [hunting for LA]
5 Januari 2010, saya mendapatkan kabar bahwa saya termasuk penerima beasiswa Monbukagakusho Research Student 2010. Universitasnya belum ditentukan di mana.
21 Januari 2010, saya ke Jakarta untuk menandatangani pledge beasiswa, sekaligus menyerahkan paspor asli untuk keperluan pembuatan visa dan pengurusan tiket.
26 Januari 2010, saya pulang kampung untuk menikmati waktu bersama keluarga, waktu tersisa di mana saya akan segera pergi meninggalkan tanah air untuk pertama kalinya.
29 Januari 2010, saya menerima e-mail dari pihak Waseda University bahwa saya ditempatkan di universitas tersebut. Saya sudah harus mulai mengurus keperluan di sana nanti, terutama terkait dormitory dan placement test bahasa Jepang.
4 Februari 2010, saya menerima e-mail lagi, kali ini tentang guideline untuk placement test bahasa Jepang. Awal di Jepang saya akan belajar bahasa Jepang dan placement test-nya dilaksanakan online sebelum berangkat.
28 Februari 2010, saya ke Padang, menikmati waktu bersama saudara di Padang, sekaligus melihat sepupu baru saya Keymita yang baru lahir beberapa hari sebelumnya.
11 Maret 2010, saya ambil placement test bahasa Jepang. Semoga nanti memang mendapatkan kelas bahasa Jepang yang tepat di sana.
12 Maret 2010, saya kembali ke Bandung untuk menikmati waktu bersama teman-teman, sekaligus mempersiapkan keberangkatan saya.
28 Maret 2010, weekend terakhir di Indonesia sebelum saya berangkat. Cuma ada satu di pikiran saya, jalan-jalan. Menikmati hari. Saya tidak mau memikirkan hal lain.
31 Maret 2010, akan ada acara orientasi dan pelepasan penerima beasiswa Monbukagakusho 2010 di Kedubes Jepang. Orang tua saya juga akan datang untuk mengantar saya keesokan harinya.
1 April 2010, dengan penerbangan JL-726 21.55 Soekarno-Hatta Jakarta, insyaAllah saya akan berangkat menuju Narita Tokyo.
***
Alhamdulillah ya Allah, selama proses, Engkau mengabulkan doaku, ‘ya Allah, jika memang ada jalan buatku ke Jepang, maka mudahkanlah’. Saat ini aku hanya bisa berdoa, ‘ya Allah, bimbinglah hamba-Mu ini selama di Jepang nanti, lindungi aku dalam setiap langkahku di sana’.
Terima kasih buat keluarga besarku, terutama Mama. Aku tidak pernah tahu apa doa-doa Mama, tapi aku yakin aku bisa seperti sekarang ini berkat doa-doa Mama.
Terima kasih buat Pak Sukrisno dan Bu Yani, atas surat rekomendasi dan dukungannya. Mungkin nanti saya akan merepotkan lagi untuk pendaftaran S2 di sana nanti.
Terima kasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan menyemangatiku. Aku pasti akan sangat merindukan saat-saat berkumpul bersama kalian.
Terima kasih juga sudah menemani hari-hariku, di sela kesibukan dan kegejean. Di sela suka, duka, tawa, dan air mata. Ruang sela ini hanya untuk sementara.
Ini semuanya barulah satu langkah kecilku untuk merajut mimpi. Aku tidak berhak untuk berbangga diri saat ini, karena apa yang akan aku hadapi ke depannya pasti lebih berat. Aku juga tidak boleh pesimis, karena aku tidak akan diberikan nikmat ini jika aku tidak mampu menjalaninya nanti. Ya Allah, aku ingin jadi hamba-Mu yang senantiasa bersabar dan bersyukur.
Bismillahirrahmanirrahiim.

REISHA: Perjuangan Demi Selembar LA

Tulisan sebelumnya… (prev: after primary screening)
MEXT mensyaratkan setiap pelamar beasiswa yang lolos primary screening untuk mendapatkan LA (Letter of Acceptance). LA dari profesor calon pembimbing di Jepang adalah semacam surat keterangan bahwa profesor bersedia menerima Anda untuk riset di lab nya. Namun dengan mendapatkan LA, bukan berarti Anda sudah diterima sebagai mahasiswa S2 atau S3 di sana.
Saya baru mencari profesor setelah dinyatakan lulus tes tertulis dan wawancara (awal Agustus). Agak hectic jadinya karena mendapatkan profesor tidak bisa dibilang mudah. Mana waktu itu saya sibuk menyelesaikan TA saya untuk mengejar wisuda. Di Jepang juga lagi musim panas, kali aja profesornya lagi liburan. Deadline LA akhir September. Huff. Pusing TA, pusing LA. (doh)
Concern riset saya adalah di bidang Software Engineering. Jepang gudangnya Computer Science, agak susah mencari yang Software Engineering, walau keduanya sama-sama IT.
Awalnya saya menemukan profesor di Osaka University yang concern risetnya sama. Profesor ini membalas e-mail saya, dan ternyata beliau hanya mau menerima mahasiswa untuk sampai S3. Kalaupun saya mau sampai S3, beliau ingin saya mengerjakan soal tes masuk tahun lalu dan mewawancara saya via Skype. Saya lihat soal tesnya, dalam bahasa Jepang 8-O Boro-boro jawab, memahami soalnya saja tak bisa. Ya sudahlah. Saya menyerah dengan profesor yang ini. Ditambah saya belum kepikiran untuk sampai S3 di sana.
Awal hingga pertengahan Agustus saya masih sibuk mencari-cari profesor yang sesuai. Berikutnya saya menemukan profesor yang sesuai di Waseda University. Saya kirimkan email ke beliau tidak dibalas-balas. Dengar dari teman, kalau di Waseda University kita harus mengirimkan berkas-berkasnya ke international office-nya, tidak boleh langsung ke profesornya. Ya sudah, saya kirimkan saja dulu berkas-berkasnya. Semoga bisa diproses.
Tidak berhenti di situ, saya masih cari-cari profesor lain soalnya belum ada yang pasti. Akhirnya saya nemu beberapa dan saya kirimkan e-mail ke profesor di Tokyo Institute of Technology, Nagoya University, Keio University, dan Toyohashi University of Technology. Tidak ada yang membalas. Hiks. Saya juga mengirim e-mail ke profesor di Ritsumeikan University.
Waktu menyerahkan berkas-berkas ke Kedubes (pertengahan Agustus), saya sudah harus menentukan pilihan universitas saya. Walaupun belum pasti akan dapat LA, saya isikan saja pilihan saya senekatnya. Pilihan 1 Waseda University, pilihan 2 Nagoya University, dan pilihan 3 Ritsumeikan University.
Profesor di Ritsumeikan University pun membalas, dan ternyata concern riset beliau kurang sesuai dengan saya. Beliau merekomendasikan profesor lain di universitas yang sama. Akhirnya saya kirim lagi e-mail ke profesor yang satu lagi ini. Dan akhirnya beliau bersedia mengisikan LA untuk saya. Argh, ternyata saya masih harus mengirim berkas-berkas lagi ke Jepang :cry:
LA dari Ritsumeikan University tinggal menunggu sampai ke Indonesia. Dan ga ada angin ga ada hujan, profesor di Waseda University tiba-tiba membalas e-mail saya dan bertanya apa yang bisa beliau bantu. Alhamdulillah. Akhirnya saya bilang ke beliau bahwa saya butuh LA dari beliau dan berkas-berkas yang dibutuhkan sudah saya kirim ke CIE Waseda. Namun sampai tahap ini saya tidak tahu kapan saya akan dapat LA dari sana, padahal waktu itu bulan September segera datang.
Di bulan September ada libur Lebaran, dan saya sudah memutuskan untuk pulang kampung. Syukurlah sebelum saya pulang, LA dari Ritsumeikan University sampai. Akhirnya, sebelum ke bandara saya ke Kedubes terlebih dahulu untuk mengantarkan LA tadi. Cape juga nenteng-nenteng tas ke Kedubes, mana tasnya tidak bisa dititip di bawah, padahal bagian Pendidikannya ada di lantai 2.
Begitu sampai di Padang, saya malah dapat e-mail dari profesor di Waseda University yang menyatakan bahwa beliau sudah mengisi LA saya. Alhamdulillah. Untuk LA yang satu lagi ini, kemungkinan besar baru akan saya terima setelah libur Lebaran. 28 September 2009 saya terima dan saya kirim kilat ke Kedubes. Syukurlah masih diterima.
Bagaimana kalau tidak dapat LA?
Sebisa mungkin LA ini didapatkan. Kalau tidak dapat, kemungkinan untuk memperoleh beasiswa MEXT masih ada. MEXT akan membantu mengurusnya ke universitas, entah itu ke universitas pilihan Anda atau universitas lain. Tidak perlu kuatir? Entahlah :D
Bersambung… (next: epilog)

REISHA: After Primary Screening MEXT Scholarship 2010

Tulisan sebelumnya… (prev: wawancara)
31 Juli 2009, adalah waktu yang dijanjikan oleh Kedubes Jepang untuk memberitahukan hasil tes tertulis dan wawancara lalu. Kedubes selalu menghubungi langsung via telepon. Sejak pagi, jantung saya dag dig dug tidak karuan, berharap ada telepon dari Jakarta. Sekitar jam 10-an, saya melihat status YM Pipin FT’04, ‘alhamdulillah :) ‘. Status sederhana, dan saya tebak, dia sudah ditelepon oleh Kedubes. Dan memang demikianlah adanya.
Akhirnya, di saat saya sedang mentoring, saya mendapatkan telepon dari Kedubes yang menyatakan bahwa saya lulus tes tertulis dan wawancara. Alhamdulillah. Langsung saya telepon mama mengabarkan hal tersebut.
Seperti saya tulis di sini, bahwa setelah lulus dari tes tertulis dan wawancara, masih ada secondary screening di MEXT di Jepang. Artinya, saya belum bisa sepenuhnya bergembira dengan pencapaian ini. Ini belumlah final.

Melengkapi Berkas-Berkas yang Dibutuhkan

Seusai primary screening, ternyata masih ada banyak hal yang harus saya siapkan. Pertama-tama, saya harus ke Jakarta lagi untuk mengambil berkas-berkas yang harus diisi. Juli-Agustus memang bulan yang penuh bolak-balik Bandung-Jakarta buat saya. Jadi, jika Anda tidak berdomisili di Jakarta, siapkanlah budget untuk transportasi ke Jakarta :cry:
Berkas-berkas yang harus diisi dan dilengkapi sama persis dengan berkas-berkas yang dikirimkan waktu pendaftaran. Kali ini 3 rangkap, hanya saja, untuk Application Form, Field of Study and Study Program, Recommendation Form, dan Certificate of Health harus menggunakan form asli dari Kedubes. Berhubung menggunakan form asli, jadi butuh sedikit perjuangan untuk mengisinya. Yang tadinya tinggal diketik terus di-print, sekarang harus ditulis tangan (gym) Bisa saja sih di-print, tapi Anda mesti pintar-pintar mengakalinya, karena Anda cuma punya 3 lembar kertas asli :P
Kalau dulu saya cukup mengisi satu surat rekomendasi (karena belum bekerja), kali ini saya harus punya dua surat rekomendasi. Jadi saya harus minta satu lagi pada dosen yang lain. Dan kali ini minta mereka tulis tangan 3x. Fufufu. Untung saja dosen saya baik-baik :D Untuk keterangan kesehatan, Anda harus tes darah lagi (keluar duit lagi :cry: ). Untuk rontgen, jika hasilnya masih berlaku maka masih bisa digunakan.
Berkas-berkas di atas harus sudah diantarkan kembali ke Kedubes dalam jangka waktu 2 minggu (waktu itu pertengahan Agustus). Selain itu, ada tambahan, yaitu Letter of Acceptance (LA) dari profesor calon pembimbing di Jepang. LA ini harus secepatnya juga diserahkan ke Kedubes. Kedubes masih memberi toleransi hingga akhir September waktu itu.

Mencari Profesor dan Mendapatkan LA

Mencari profesor sebenarnya sudah bisa dilakukan jauh-jauh hari bahkan sebelum pendaftaran beasiswa MEXT dibuka. Dengan mencari dari awal, setelah lulus tes tertulis dan wawancara Anda tinggal minta profesor untuk mengisikan LA. Saya pribadi baru mencari profesor setelah dinyatakan lulus tes tertulis dan wawancara. Agak hectic jadinya.
Bagaimana cara mencari profesor? Tidak satu jalan ke Jepang, Anda bisa menghalalkan berbagai cara (lho?). Buat Anda yang pernah exchange ke Jepang, atau ada profesor yang direkomendasikan dosen Anda di kampus, tentunya akan lebih mudah. Kalau tidak ada link sama sekali bagaimana?
Nah, saya benar-benar berjuang mencari sendiri profesornya. Cara yang saya lakukan sebagai berikut. Pertama-tama, saya cari universitas yang ingin saya tuju*). Kemudian, saya lihat ada Graduate School apa saja di universitas tersebut, lalu ada lab apa saja di Graduate School tersebut. Jika sudah menemukan lab yang sesuai, biasanya di website lab tersebut ada kontak e-mail profesornya. Berikutnya saya kirim e-mail ke profesor tersebut.
Isi emailnya apa? Pas awal tentunya perkenalan dulu saja. Jelaskan bahwa Anda sudah melewati primary screening untuk beasiswa MEXT. Lalu jelaskan interest dan concern riset Anda. Terakhir bilang bahwa Anda ingin riset di lab profesor tersebut. Sebagai tambahan, Anda bisa melampirkan CV, transkrip, abstrak TA/Skripsi, dan proposal riset Anda. Itu e-mail perkenalan versi saya.
Perlu diingat bahwa e-mail Anda belum tentu dibalas. Jadi bersabar saja dan jangan stuck di satu profesor saja. Hubungi saja banyak profesor. Korespondensi selanjutnya tentunya tergantung profesor yang bersangkutan. Ada profesor yang memberi tes terlebih dahulu. Ada juga yang langsung menanyakan apa yang bisa beliau bantu.
Jika profesor sudah setuju, biasanya kita harus mengirimkan lembar LA beserta kopian berkas-berkas yang dulu diserahkan waktu pendaftaran. Waktu mengambil berkas-berkas di Jakarta, kita juga mendapatkan surat keterangan bahwa kita sudah lolos primary screening di Kedubes. Kopian surat ini juga dikirimkan. Siap-siap keluar duit lagi untuk mengirim dokumen ke Jepang :cry:
Anda diberikan kesempatan untuk mengajukan 3 pilihan universitas di Jepang. Jika Anda yakin dengan satu pilihan saja tidak masalah.
Setelah LA masuk ke Kedubes, urusan untuk secondary screening sudah selesai. Anda tinggal menunggu prosesnya di Jepang. Kemungkinan pengumuman hasilnya akan keluar sekitar bulan Desember. Bersabar dan berdoa saja selama sekitar 3 bulan lebih itu.
*) Info tentang universitas di Jepang, bisa dicari di situs JASSO, Japan Study Support, atau ReaD. Daftar universitas top di Jepang bisa dilihat di sini.
Bersambung… (next: perjuangan demi selembar LA)

REISHA: Wawancara Beasiswa Monbukagakusho 2010

Tulisan sebelumnya… (prev: tes tertulis)
Nah, ini lanjutan tulisan sebelumnya tentang pengalaman saya hingga akhirnya mendapatkan beasiswa MEXT. Kali ini cerita tentang wawancaranya. Wawancara dilaksanakan secara marathon selama sekitar 2 minggu untuk sekitar 100 pelamar. Jadwalnya berupa sesi-sesi, dan dalam tiap sesi ada 5 orang yang akan diwawancara.
Jadwal wawancara saya 17 Juli 2009, hari di mana ada bom meledak di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton yang membuat MU tidak jadi ke Indonesia. Ckckck. Sempat pagi itu salah satu bapak-bapak yang akan mewawancara bertanya pada kami, ‘ada yang lewat Kuningan tadi pagi?’. Yang juga akan wawancara pagi itu ada Mbak Irma, Mbak Pradanti, Rizki, dan Mas Ino. Yang saya kenal cuma Mas Ino, kakaknya si Presiden KM-ITB. (belakangan saya ketahui lima-limanya mendapatkan beasiswa ini, yatta :D )
Oia, jika Anda bertanya tips buat wawancara beasiswa ini, mungkin saya hanya bisa kasih tips, berpakaianlah yang rapi, minimal kemeja (saya pakai kemeja waktu itu, bela-belain beli kemeja baru karena ga pede pakai kemeja yang sudah ada :P ). Bersepatu. Tenang. Bersikap apa adanya saat wawancara, tidak usah jadi orang yang sok tahu kalau memang Anda tidak tahu harus menjawab apa. Saya ingat kata seorang teman, menurutnya, dalam wawancara apapun, pewawancara bukanlah ingin melihat seberapa hebatnya Anda, sekeren apakah riset Anda, sejago apakah bahasa Inggris Anda, tapi ingin melihat Anda itu orangnya seperti apa. Ya, saya ingat pendapat ini selalu supaya saya bisa tenang.
Saya orangnya grogian untuk berbicara di depan umum ataupun dalam wawancara. Pewawancaranya 5 orang (3 orang Jepang, 2 orang Indonesia), menggunakan bahasa Inggris atau Jepang. Harapan saya satu-satunya tentunya bahasa Inggris, mana bahasa Inggris saya sangat kacau pula :( Ini kali pertamanya saya wawancara resmi, pakai bahasa Inggris pula. Ah, jantung ini dag dig dug tidak karuan…
Yang ditanyakan apa saja? Yang pasti Anda pasti ditanyai seputar riset Anda dan alasan kenapa memilih Jepang. Lainnya, tiap orang akan berbeda-beda. Toh wawancara tidak akan ada yang persis sama kan? Tidak seperti tes tertulis :)

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Saya

Dari 5 orang tersebut, saya dapat urutan keempat. Tiap ada yang keluar dari ruangan wawancara, kami pasti saling nanya, “ditanyain apa aja?”. Argh. Deg degan. Akhirnya nama saya dipanggil. Sebelum masuk, lagi-lagi saya berdoa, ‘ya Allah, jika memang ada jalan buat saya ke Jepang, maka mudahkanlah’. (gym)
Ruangan wawancara adalah ruangan yang sama yang dipakai untuk tes tertulis. Besar sekali, mungkin sekitar 10m x 10m. Makin deg degan saja. Saya berusaha setenang mungkin. OK, pewawancaranya semuanya bapak-bapak. Salah satu orang Jepang bahasa Inggrisnya tidak terlalu jelas. Ya sudah, hajar saja, bahasa Inggris saya juga tidak jelas. :D
Pertama kali, standar lah, disuruh memperkenalkan diri. Saya sudah siapkan bahan perkenalan saya, eh pas di ruangan malah lupa. Saya hanya menyebutkan nama dan latar belakang pendidikan saya. Sampai-sampai si bapak bilang “udah, segitu saja?” (doh) (in English tentunya). Si bapak yang lain, mengetahui saya dari ITB, langsung nanya “ikut UKJ?”. “Wah nggak Pak”. “Oh, ikut UKM ya?”. “Iya Pak”. Ahahay, senang juga UKM dikenal :P
Berikutnya saya disuruh menjelaskan topik riset saya. Jadilah saya nyerocos soal topik riset saya, yang kebanyakan hapalan dari proposal yang saya tulis saja :P Bapak-bapak itu kayanya ga terlalu mengerti soal riset saya. Seringkali beberapa dari mereka mengerutkan kening. Jadi kuatir.
Sebentar banget saya ditanya soal riset saya, sama-sama bingung kali ya :P Wajar kalau bapak-bapak itu tidak mengerti karena di luar bidang keahliannya (kabarnya yang orang Indonesia itu dosen Fisika ITB). Saya saja juga tidak mengerti :lol:
Selanjutnya pertanyaan umum. Apa yang akan saya lakukan seusai pendidikan di Jepang. Apakah saya pernah keluar negeri. Apakah saya juga apply beasiswa lain. Bagaimana pendapat saya, permasalahan apa di Indonesia yang sangat penting untuk diselesaikan. Apakah saya sudah kontak dengan profesor di Jepang.
Nah, berikutnya pertanyaan yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Saya sudah Googling sebelumnya, dan cerita beberapa orang, ada yang ditanya tentang politik. Saya sudah menyiapkan jawaban kalau-kalau saya dimintai pendapat soal PilPres. Ternyata eh ternyata, si bapak orang Jepang nanya tentang Minangkabau! (doh). Beliau melihat tempat lahir saya, Bukittinggi (senang juga Bukittinggi dikenal sama orang Jepang :D )
Saya ditanyai, “Kalau di Minangkabau, kan katanya kedudukan perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Nah, dalam rumah tangga apakah kedudukan istri lebih tinggi dari suami?” Argh (doh). Saya sampai bingung menjawabnya. Menjelaskan dalam bahasa Indonesia saja susah, apalagi dalam bahasa Inggris. Saya cuma bisa bilang, intinya, istri tidak lebih tinggi dari suami. Huhu. Saya sampai garuk-garuk kepala saking bingungnya. Si bapak akhirnya bilang “it’s OK, it’s OK”.
Si bapak orang Indonesia juga ikutan nanya. “Orang Minang dan Jepang kan sama-sama berpegang teguh sama adat/culture-nya. Apakah ada perbedaan karakter orang Minang dengan orang Jepang? Atau sama?”. Haiyah. Waduh bapak, mana tau saya orang Jepang seperti apa. Saya bilang saja saya tidak tahu. Ah, tidak teringat sedikitpun waktu itu buat menjawab dengan sedikit lebih elegan. Saya cuma bilang, I don’t know. Kerenan dikit kek dengan bilang “Saat ini saya tidak tahu jawabannya Pak. Mungkin kalau saya sudah di Jepang nantinya saya bsa menjawab pertanyaan tersebut.” (doh)
Mengetahui saya anak UKM, saya ditanya lagi, kira-kira apa yang bisa saya lakukan nanti di Jepang terkait latar belakang budaya saya sebagai orang Minangkabau. Hmm… Bingung juga. Saya jawab saja, saya bisa nari, mungkin nanti di sana saya bisa mengajarkan tarian tradisional Minangkabau. :P
Apa lagi ya? Oh iya, melihat saya pakai jilbab, si bapak bilang “Anda kan muslim yang taat. Strict mungkin. Di Jepang, paling makanan halal yang bisa Anda temui hanya ikan dan sayuran. Gimana?”. Yah, saya jawab saja, saya bisa masak sendiri. Lagi pula saya juga lebih suka ikan dibanding ayam atau daging. Hohohoho.
Saya juga ditanyai apakah saya sudah belajar bahasa Jepang. Kebetulan waktu itu saya sudah mulai belajar bahasa Jepang. Sedang les tepatnya. Lalu saya diminta untuk berbicara dalam bahasa Jepang. Yang saya bisa hanyalah memperkenalkan diri. Akhirnya saya memperkenalkan diri saja sedikit, kebetulan di pertemuan les sebelumnya juga disuruh memperkenalkan diri, hihi. “Watashi wa Reisha desu. Watashi wa gakusei desu. Bukittinggi kara kimashita. Ima Bandung ni sundeimasu. Dozo yoroshiku onegaishimasu.” Segitu aja. Hihihi. Si bapak malah tepuk tangan dan bilang “sugoooi”. Ckckck.
Apalagi ya? Itu aja deh kayanya yang saya ingat. Pertanyaan soal Minangkabau tidak akan saya lupakan. Yang lain dibantai soal risetnya, saya malah ditanyai soal Minangkabau. Hehe. Dari 5 orang tadi, kayanya wawancara saya yang paling sebentar. Bingung saya. Tapi ya sudahlah ya. Pokoknya semua ujian sudah beres. Saya tinggal tunggu hasilnya, sembari berdoa, semoga saya diberikan hasil yang terbaik. :)
Bersambung… (next: after primary screening)

REISHA: Tes Tertulis Beasiswa Monbukagakusho 2010

Tulisan sebelumnya… (prev: seleksi dokumen)
Lolos dari seleksi dokumen, pelamar beasiswa MEXT program Research Student akan menghadapi tes tertulis DAN wawancara. Tes tertulis ini dilaksanakan secara bersamaan, sementara untuk wawancara, tiap pelamar akan diberikan jadwal yang berbeda-beda. OK, kali ini saya akan cerita tentang tes tertulisnya terlebih dahulu.
Sebelum tes ada semacam pengarahan dari pihak Kedubes. Saya lupa apa saja yang dijelaskan, hehehe. Yang saya ingat, ada penjelasan tentang prosedur setelah tes tertulis dan wawancara.
Tes tertulis ini berupa tes bahasa saja, tidak ada tes kemampuan akademik atau sejenisnya. Tes bahasanya sendiri ada bahasa Inggris dan bahasa Jepang, masing-masing 60 menit. Bahasa Jepang? 8-O Yup. Jika Anda tidak bisa berbahasa Jepang (seperti halnya saya), Anda tidak perlu kuatir.
Jadi, aturan tes tertulis itu seperti ini. Tes bahasa Jepang wajib, sementara tes bahasa Inggris optional. Jika Anda tidak bisa bahasa Jepang, Anda boleh mengosongkan lembar jawaban. Tes bahasa Inggris sebaiknya diambil. Intinya, ambil sajalah kedua tes tersebut. Dengar-dengar, nilai terbaik yang akan diambil. Ada juga yang bilang, tes tertulis ini lebih untuk melihat kemampuan berbahasa kita sejauh apa. Jangan lupa berdoa juga ya ;) Doa saya masih sama, ‘ya Allah, jika memang ada jalan buat saya ke Jepang, maka mudahkanlah’.
Soal tes tahun-tahun sebelumnya dapat Anda lihat di sini. Soal tes tahun kemarin tampaknya cukup berbeda tipe soalnya dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahasa Inggrisnya bisa lah. Untuk bahasa Jepang malah tampaknya makin sulit :( Dulu-dulu masih ada soal pola-pola kalimat gitu. Tahun lalu malah isinya reading text semua. Pilihan ganda sih, 20 soal doank, tapi saya tidak mengerti satupun apa yang tertulis :cry: Ya iyalah, kanji gitu, secara saya waktu itu baru hapal hiragana. Katakana juga lupa-lupa ingat :D Bisa baca juga belum tentu tau artinya. Hehehe. Santai, kosongkan saja lembar jawaban. Yakin, tidak akan sendirian. Hehehe. :D
Oiya, tahun lalu tes tertulis diadakan pada 13 Juli 2009. Saya cukup hectic waktu itu, beberapa kali mesti bolak-balik Bandung-Jakarta. Tanggal 11 Juli saya ada pelatihan di Jakarta. Berangkat pagi subuh dari Bandung, lalu balik sore harinya. Saya mesti balik ke Bandung karena 12 Juli ada pernikahan teman, dan saya sudah didaulat jadi pagar ayu. 12 Juli sorenya, setelah acara pernikahan, saya berangkat lagi ke Depok untuk menginap di tempat teman (yup girls, that’s why I went early from the wedding, hehe). Saya kuatir terlambat jikalau harus berangkat ke Kedubes pada 13 Juli pagi. Tesnya dimulai jam 09.00, dan dengar-dengar jalan ke Jakarta Senin pagi macet.
Dari Depok saya berangkat jam 06.00. Hiks. Terpaksa berangkat pagi banget karena si teman kerja di Jakarta dan masuk pagi. Jam 7-an saya sudah sampai di Kedubes. Bengong deh sendirian. Untung beberapa saat kemudian datang satu orang lagi. Setelah kenalan, ternyata anak TL’05 ITB (Nasti). Menjelang jam 9, makin banyak yang berdatangan. Ada beberapa anak ITB juga (salah satunya Pipin FT’04), dan malah ada salah satu senior saya di UKM-ITB (Ni Feni EL’03). Yang belum tamat kuliah seperti saya tampaknya bisa dihitung dengan jari :p Seusai tes saya kembali lagi ke Bandung. たいへんですね.
Wawancara menanti saya pada tanggal 17 Juli 2009 jam 09.00. Bolak-balik lagi deh Bandung-Jakarta (gym) Lagi-lagi saya menginap di Depok sehari sebelum wawancara (thank’s banget lah buat Ayu buat tumpangannya selama saya tes :) ) dan berangkat jam 06.00 lagi dari Depok ke Jakarta.
Bersambung… (next: wawancara)

REISHA: Seleksi Dokumen Beasiswa Monbukagakusho 2010

Tulisan sebelumnya… (prev: tentang beasiswa)
Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya hingga akhirnya saya mendapatkan beasiswa MEXT (Monbukagakusho/Monkasho/Monbusho) program Research Student. Cerita pengalaman saya ini akan saya pisah ke dalam beberapa tulisan :D
Tahap paling awal untuk mendapatkan beasiswa apapun tentunya melakukan pendaftaran. Pada tahap ini kita harus menyiapkan segala dokumen yang diperlukan. Telitilah dalam menyiapkannya, jangan sampai ada yang terlewat (berapa jumlah asli, berapa jumlah fotokopi). Kedubes tidak akan menerima dokumen yang tidak lengkap.
Dokumen apa saja yang diperlukan? Ini dia, saya tuliskan berurutan sesuai application procedure. Oh iya, sebelumnya, ada 4 form yang disediakan oleh Kedubes, yaitu Application Form, Field of Study and Study Program, Recommendation Form, dan Certificate of Health. 4 form tersebut bisa di-download atau diambil langsung di Kedubes. (skip saja 1-10 kalau tulisan saya kepanjangan :p)

1.  Application Form

Form ini isinya data pribadi dan riwayat hidup. Ada banyak data yang harus diisi dengan benar. Jadi, sekali lagi, telitilah. Jangan sampai membuat kesalahan.

2. Field of Study and Study Program

Form ini berisi penjelasan mengenai area studi kita serta rencana dan topik riset nantinya di Jepang. Jika Anda Googling form ini harus diisi seperti apa, jawabannya akan macam-macam. Ada yang cuma memberikan gambaran singkat dalam form yang ada, ada juga yang melampirkan semacam proposal riset. Kalau versi saya, bagian detail riset saya saya kelompokkan ke dalam beberapa subbab, di antaranya tujuan, objektif, outline, dan metodologi. Ya standar seperti proposal ilmiah lah, tapi dibuat lebih simpel.
Saya sendiri termasuk beruntung soal topik riset ini. Topik riset saya buat sendiri hanya dalam semalam, tidak sempat direvisi oleh dosen saya di ITB, apalagi sama profesor di Jepang. Hihi. Berhari-hari saya sibuk memikirkan topik apa yang akan saya ajukan dan mencari bahan-bahan, belum memutuskan apa topiknya. Yang namanya anak IF ITB sudah identik dengan deadliner, saat waktu sudah mepet barulah si otak ini encer. Hehehe… Waktu itu saya nekat saja, yang penting berkas-berkasnya lengkap :D
Tapi saya sarankan, jangan tiru saya. Hehehe.Lebih baik proposal riset ini disiapkan dari jauh-jauh hari. Jika Anda memang berniat mencari beasiswa S2 atau S3 ke luar negeri, sebagian besar beasiswa, setau saya, mensyaratkan topik riset. Lebih baik lagi jika Anda bisa konsultasi dengan dosen di kampus sehingga proposal Anda bisa direvisi. Dan lebih baik lagi jika Anda sudah berkorespondensi dengan profesor di universitas yang ingin Anda tuju dan mengonsultasikan topik riset Anda kepada beliau.
Mengenai topik riset sendiri, buatlah topik riset yang menarik dan berbobot. Katanya topik riset ini cukup mempengaruhi aplikasi kita diterima atau tidak. Topik ini bisa dicari sendiri, ataupun mencari topik riset yang ada pada lab-lab di universitas di Jepang.

3. Photograph

Pas foto. Standarlah. Tertulisnya sih dimintanya 4,5 x 3,5 cm. Jarang sih ukuran seperti ini di Indonesia. Waktu itu saya masukkan saja ukuran 4×6. Buat yang berjilbab seperti saya, tidak usah kuatir memasukkan foto yang berjilbab. Di persyaratan memang tertulis uncapped photograph, tapi cap yang dimaksud di sana adalah topi dan sejenisnya. Jilbab tidak tergolong cap. Jangan sampai melepas jilbab hanya karena beasiswa :)

4. Academic Transcript

Transkrip yang diminta adalah yang dalam bahasa Inggris. Jika Anda belum lulus, mintalah transkrip terbaru.

5. Recommendation from University

Ini isinya rekomendasi dari dosen Anda di kampus. Gunakan form yang disediakan oleh Kedubes dan mintalah dosen untuk mengisinya dengan bahasa Inggris.

6. Recommendation from Employer

Ini diisi hanya jika Anda sudah bekerja. Waktu itu saya belum bekerja, lulus saja belum. Hehehehe.

7. English or Japanese Proficiency Certificate

Bentuknya berupa TOEFL atau JLPT. Salah satunya saja. Tentang TOEFL sendiri, bebas, bisa saja TOEFL institusional (ITP), internasional (iBT), bahkan prediksi (biasanya bisa diambil di lembaga kursus bahasa Inggris). Waktu itu saya memasukkan TOEFL prediksi saja, lagi-lagi nekat. Waktu saya sudah mepet sehingga tidak mungkin untuk mendapatkan TOEFL ITP. Kalau mau ambil TOEFL iBT, biayanya sangat mahal (waktu itu $150), hehe. Untuk mendapatkan skor >550 saya sampai ambil tes 2x. Tes pertama soalnya cuma dapat 533. Riskan sekali kalau kita memasukkan TOEFL di bawah yang disyaratkan :D

8. Medical Certificate

Atau simpelnya, keterangan kesehatan. Ini akan cukup menguras dompet, jadi siapkan dana. Hehe. Untuk mengisi form ini kita perlu tes darah dan rontgen (chest x-ray). Untuk yang di ITB, Anda bisa melengkapi form ini di Bumi Medika Ganesha. Dokternya sudah pengalaman mengisikan form ini. Tes darah dan rontgen juga bisa langsung di sana. Biayanya waktu itu kalau tidak salah Rp 119.500 untuk tes darah dan Rp 45.000 untuk rontgen.

9. Graduation Certificates

Semua ijazah degree yang dipunya (S1, S2). Lampirkan terjemahan bahasa Inggrisnya. Waktu apply, saya belum lulus, jadi diganti dengan surat keterangan dari kampus yang menyatakan bahwa saya akan lulus pada Oktober 2009 (target lulus saya).

10. Abstracts of Theses

Abstrak dari tugas akhir/skripsi dan tesis (kalau sudah S2). Waktu apply, TA saya bahkan baru sampai bab 3, yang artinya saya belum dapat kesimpulan akhir dari TA saya. Hehe. Lagi-lagi saya nekat, saya tulis saja kesimpulan yang kira-kira akan saya dapatkan. Hihihi. Yang penting TA saya apa sudah tergambar :D

***

Itu dia dokumen-dokumennya. Dokumen ini harus sampai di kedubes paling lambat sesuai batas waktu yang diberikan. Jadi jika Anda tidak akan mengantar langsung berkas-berkas tersebut ke Kedubes, perhitungkanlah waktu pengiriman.
Lagi-lagi saya deadliner waktu itu. Deadline-nya 22 Mei 2009. 21 Mei 2009 tanggal merah yang artinya kantor-kantor tutup. Saya putuskan deadline saya maksimal 19 Mei 2009 berkas sudah diantar ke kantor pos, karena saya tidak bisa mengantar langsung dokumen ke Jakarta. Harap-harap cemas juga waktu itu. Saya cuma berdoa, ‘ya Allah, jika memang ada jalan buat saya ke Jepang, maka mudahkanlah’.
Oiya, untuk berkas-berkasnya, jika memang dikirimkan, susunlah berurutan sesuai urutan yang ada di atas. Susun yang rapi. Amannya memang diantar langsung, karena jika ada kesalahan bisa langsung diperbaiki.
Kedubes akan menyeleksi dokumen yang masuk dari seluruh Indonesia. Nantinya akan diambil sekitar 100 orang. Waktu itu di web Kedubes tertera ‘Ujian tertulis Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris akan dilaksanakan di Jakarta, Surabaya, Medan pada awal Juni 2009.’ Artinya, dalam perhitungan saya, hasil seleksi dokumen ini akan diumumkan pada awal Juni.
Bulan Juni pun datang. Awal Juni masih belum ada kabar. Pertengahan, hingga akhir Juni, juga masih belum ada kabar. Waktu itu saya sudah benar-benar pasrah. Rasanya saya sudah mengerahkan usaha saya semaksimal mungkin untuk mendaftar beasiswa ini. Dari bulan Februari 2009 saya cari-cari informasi, tanya-tanya sama senior. Saya juga coba-coba belajar bahasa Jepang. Saya juga sudah berdoa sebanyak-banyaknya. Juni berakhir, masih belum ada kabar :(
Akhirnya, kalau tidak salah tanggal 8 Juli 2009, saya ditelepon mama. Mama saya bilang, barusan beliau ditelepon Kedubes memberitahukan jadwal tes tulis dan wawancara saya. Huaaa… Alhamdulillah. Biasanya sih Kedubes menelepon langsung ke yang bersangkutan, cuma waktu itu katanya Kedubes tidak bisa menghubungi HP saya. Kenapa ya? Apa karena HP saya waktu itu lagi saya pake buat online… online… ? :p
Saya pastikan lagi ke Kedubes bahwa jadwal tes tertulis 13 Juli 2009 dan jadwal wawancara saya 17 Juli 2009. Alhamdulillah. Lagi-lagi saya berdoa, ‘ya Allah, jika memang ada jalan buat saya ke Jepang, maka mudahkanlah’.
Bersambung… (next: tes tertulis)

REISHA: Tentang Beasiswa Monbukagakusho (MEXT) Research Student

29 Januari lalu saya mendapat email dari Center for International Education Waseda University, yang mengonfirmasikan bahwa saya ditempatkan di universitas tersebut. Walaupun surat resmi dari pihak Kedubes Jepang belum keluar, paling tidak email tersebut cukup menjawab pertanyaan yang masih menggantung pada tulisan saya sebelumnya, soal universitas manakah yang akan saya tuju nantinya.
Namun demikian, jika saya ditanyai soal jurusannya, saya masih belum bisa menjawab. Lho? Yap. Mendapatkan beasiswa ini, bukan berarti status saya sudah otomatis berubah menjadi mahasiswa S2. Saya masih harus ikut ujian masuk S2 nantinya.

Tentang Monbukagakusho

Monbukagakusho (文部科学省) atau MEXT (Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology) atau dikenal juga dengan Monkasho atau Monbusho (selanjutnya saya tulis MEXT saja untuk memudahkan penulisan) adalah salah satu kementerian dalam pemerintahan Jepang. Setiap tahunnya, MEXT menawarkan beasiswa untuk studi di Jepang. Adapun program beasiswa yang ditawarkan adalah:
  1. Research Student bagi lulusan perguruan tinggi (S1 ataupun S2).
  2. Undergraduate, College of Technology, dan Professional Training College bagi lulusan SLTA.
  3. Japanese Studies bagi mahasiswa program studi Jepang.
  4. Teacher Training bagi guru.
Beasiswa yang saya apply tahun lalu itu adalah yang program Research Student. Info persyaratan dan tata cara pendaftarannya bisa dilihat di sini.
Beasiswa MEXT Research Student ada 2 macam, yakni yang direkomendasikan Kedubes dan yang direkomendasikan universitas (dikenal juga dengan Monbusho U to U). Perbedaannya hanya pada prosedur pendaftarannya. Karena saya apply yang via Kedubes, jadi saya tidak akan bercerita soal yang lainnya.
Dengan membaca file ini secara detail dan saksama, sebenarnya sudah tergambar beasiswanya seperti apa. Memang panjang sih, dan pertama baca saya juga pusing. Mungkin bisa saya ceritakan ringkasannya supaya bisa dapat gambaran awal :D

Tentang Seleksi Beasiswanya

Beasiswa ini biasanya dibuka sekitar bulan April. Seleksinya ada 2 tahap, yakni:
  1. Primary screening di Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.
  2. Secondary screening di MEXT di Jepang.
Untuk primary screening, tahap paling awal adalah seleksi dokumen (April-Mei). Semua persyaratan yang diminta dikirimkan ke Bagian Pendidikan Kedubes Jepang. Bisa juga diantar langsung :P Dokumen-dokumen tersebut diseleksi, lalu yang lulus seleksi dokumen ini akan menghadapi tes tertulis dan wawancara (Juli). Tes tertulisnya berupa tes bahasa saja, bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Selanjutnya tinggal tunggu pengumuman apakah Anda lolos atau tidak. Jikalau lolos, overall seleksi di Kedubes sudah selesai, namun perlu digarisbawahi bahwa lolos hingga tahap ini bukanlah jaminan bahwa Anda sudah pasti mendapatkan beasiswa MEXT. Masih ada tahap berikutnya.
Tahap berikutnya adalah secondary screening di MEXT. Pada tahap ini, Anda harus melengkapi lagi dokumen-dokumen seperti yang dikirimkan pada saat awal mendaftar. Selain itu ada dokumen tambahan, yakni Letter of Acceptance dari profesor calon pembimbing Anda di Jepang. Dokumen-dokumen tersebut diserahkan ke Kedubes (Agustus-September), lalu selanjutnya Anda tinggal menunggu saja. Pengumuman hasil secondary screening ini keluar sekitar bulan Desember-Januari. Jika Anda sudah dinyatakan lolos, artinya bersiap-siaplah, Anda akan berangkat ke Jepang. :)
Kira-kira begitu gambaran umum alur untuk mendapatkan beasiswa ini. Cerita detail pengalaman saya akan saya jelaskan pada tulisan-tulisan berikutnya. :)

Setelah Seleksi

Selanjutnya jika sudah diterima, status Anda barulah sebagai research student (non-degree). Jika Anda ingin menjadi degree student, Anda masih harus mengikuti admission procedure dari universitas yang bersangkutan. Degree yang dimaksud bisa saja master (untuk lulusan S1) ataupun doktoral (untuk lulusan S2).
Kalau dari yang saya baca dan saya dengar, dalam masa research student tersebut, Anda akan belajar bahasa Jepang serta mempersiapkan diri untuk ujian masuk (jika memang ingin ambil degree). Kapan ujian masuknya tergantung dari universitas yang Anda tuju. Bisa saja Anda ikut tes masuk 6 bulan setelah berada di Jepang, atau malah baru bisa tahun berikutnya.
Masa beasiswa sebagai research student maksimal 2 tahun (untuk keberangkatan April) atau 1.5 tahun (untuk keberangkatan Oktober). Jika Anda lulus ujian masuk degree, status beasiswa research student yang masa waktunya masih lebih akan otomatis dihentikan dan Anda didaftar sebagai penerima beasiswa S2 (2 tahun lagi) atau S3 (3 tahun lagi). Jika dalam masa research student tersebut Anda gagal di ujian pertama, maka Anda bisa mengikuti ujian masuk kedua dan ketiga sampai masa research student habis. Jika sampai masa research student habis dan Anda belum bisa lolos ujian, maka Anda dipulangkan. Please CMIIW karena saya belum melalui tahap ini. Hehe…
Jadi jika ada yang bertanya apakah saya dapat beasiswa S2, maka jawaban saya adalah: belum :D

Lain-lain

Ada beberapa kabar burung yang menarik soal beasiswa ini. Dari seleksi dokumen, yang maju ke tes tertulis dan wawancara sekitar 100 orang. Lalu yang nantinya akan berangkat ke Jepang sekitar 40 orang. Jadi peluang untuk mendapatkan beasiswa ini cukup besar kan? :D
Lolos primary screening memang bukan jaminan bahwa Anda akan mendapatkan beasiswa ini. Tapi konon kabarnya, yang lulus tes tertulis dan wawancara akhirnya mendapatkan beasiswa ini. Artinya, jika Anda masuk ke tahap secondary screening, peluang Anda ke Jepang semakin besar. Lalu, Anda nantinya bisa mengajukan 3 pilihan universitas di secondary screening, dan konon kabarnya lagi, Anda akan diterima di pilihan pertama.
Kata ‘konon’ sengaja saya tulis berulang-ulang, karena itu memang bukan jaminan. Hehe. Saya ga ingin nanti tiba-tiba ditimpukin orang karena kabar tersebut tidak berlaku padanya. Tapi paling tidak hal-hal tersebut terjadi pada diri saya. Hehe.
Tentang bahasa Jepang, Anda tidak perlu ragu untuk mendaftar beasiswa ini jika Anda sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang. Saya mengalami sendiri. Saya cukup buta soal Jepang. Saya baru belajar bahasa Jepang setelah mengikuti seleksi beasiswa ini. Memang ada tes tertulis bahasa Jepang, tapi tak usah kuatir, karena jika memang tidak bisa, Anda tinggal mengosongkan lembar jawaban. Tunggu cerita saya soal tes tertulis dan wawancara :D Yang pasti, Anda harus bersedia untuk belajar bahasa Jepang nantinya.
Rentang waktu dari Anda apply beasiswa hingga akhirnya berangkat ke Jepang cukup lama. Hampir 1 tahun. Jadi perbanyak sabar dan berdoa dalam masa penantian. Apalagi masa penantian hasil secondary screening sangat lama.
Well. Segitu dulu. Ayo yang mau ke Jepang ataupun belahan bumi lainnya, selamat berburu beasiswa :) Dengan biaya sendiri kan mahal :p
Bersambung… (next: seleksi dokumen)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger