Tulisan sebelumnya… (prev: tes tertulis)
Nah, ini lanjutan tulisan
sebelumnya tentang pengalaman saya hingga akhirnya mendapatkan beasiswa
MEXT. Kali ini cerita tentang wawancaranya. Wawancara dilaksanakan
secara marathon selama sekitar 2 minggu untuk sekitar 100 pelamar.
Jadwalnya berupa sesi-sesi, dan dalam tiap sesi ada 5 orang yang akan
diwawancara.
Jadwal wawancara saya 17
Juli 2009, hari di mana ada bom meledak di Hotel JW Mariott dan Ritz
Carlton yang membuat MU tidak jadi ke Indonesia. Ckckck. Sempat pagi itu
salah satu bapak-bapak yang akan mewawancara bertanya pada kami, ‘ada
yang lewat Kuningan tadi pagi?’. Yang juga akan wawancara pagi itu ada
Mbak Irma, Mbak Pradanti, Rizki, dan Mas Ino. Yang saya kenal cuma Mas
Ino, kakaknya si Presiden KM-ITB. (belakangan saya ketahui lima-limanya mendapatkan beasiswa ini, yatta
)
Oia, jika Anda bertanya tips
buat wawancara beasiswa ini, mungkin saya hanya bisa kasih tips,
berpakaianlah yang rapi, minimal kemeja (saya pakai kemeja waktu itu,
bela-belain beli kemeja baru karena ga pede pakai kemeja yang sudah ada
). Bersepatu. Tenang. Bersikap apa adanya saat wawancara, tidak usah
jadi orang yang sok tahu kalau memang Anda tidak tahu harus menjawab
apa. Saya ingat kata seorang teman, menurutnya, dalam wawancara apapun,
pewawancara bukanlah ingin melihat seberapa hebatnya Anda, sekeren
apakah riset Anda, sejago apakah bahasa Inggris Anda, tapi ingin melihat
Anda itu orangnya seperti apa. Ya, saya ingat pendapat ini selalu
supaya saya bisa tenang.
Saya
orangnya grogian untuk berbicara di depan umum ataupun dalam wawancara.
Pewawancaranya 5 orang (3 orang Jepang, 2 orang Indonesia), menggunakan
bahasa Inggris atau Jepang. Harapan saya satu-satunya tentunya bahasa
Inggris, mana bahasa Inggris saya sangat kacau pula
Ini kali pertamanya saya wawancara resmi, pakai bahasa Inggris pula. Ah, jantung ini dag dig dug tidak karuan…
Yang ditanyakan apa saja?
Yang pasti Anda pasti ditanyai seputar riset Anda dan alasan kenapa
memilih Jepang. Lainnya, tiap orang akan berbeda-beda. Toh wawancara
tidak akan ada yang persis sama kan? Tidak seperti tes tertulis
Pertanyaan-Pertanyaan untuk Saya
Dari 5 orang tersebut, saya dapat urutan
keempat. Tiap ada yang keluar dari ruangan wawancara, kami pasti saling
nanya, “ditanyain apa aja?”. Argh. Deg degan. Akhirnya nama saya
dipanggil. Sebelum masuk, lagi-lagi saya berdoa, ‘ya Allah, jika memang
ada jalan buat saya ke Jepang, maka mudahkanlah’. 
Ruangan wawancara adalah ruangan yang
sama yang dipakai untuk tes tertulis. Besar sekali, mungkin sekitar 10m x
10m. Makin deg degan saja. Saya berusaha setenang mungkin. OK,
pewawancaranya semuanya bapak-bapak. Salah satu orang Jepang bahasa
Inggrisnya tidak terlalu jelas. Ya sudah, hajar saja, bahasa Inggris
saya juga tidak jelas.
Pertama kali, standar lah,
disuruh memperkenalkan diri. Saya sudah siapkan bahan perkenalan saya,
eh pas di ruangan malah lupa. Saya hanya menyebutkan nama dan latar
belakang pendidikan saya. Sampai-sampai si bapak bilang “udah, segitu
saja?”
(in English
tentunya). Si bapak yang lain, mengetahui saya dari ITB, langsung nanya
“ikut UKJ?”. “Wah nggak Pak”. “Oh, ikut UKM ya?”. “Iya Pak”. Ahahay,
senang juga UKM dikenal
Berikutnya saya disuruh
menjelaskan topik riset saya. Jadilah saya nyerocos soal topik riset
saya, yang kebanyakan hapalan dari proposal yang saya tulis saja
Bapak-bapak itu kayanya ga terlalu mengerti soal riset saya. Seringkali beberapa dari mereka mengerutkan kening. Jadi kuatir.
Sebentar banget saya ditanya soal riset saya, sama-sama bingung kali ya
Wajar kalau bapak-bapak itu tidak mengerti karena di luar bidang
keahliannya (kabarnya yang orang Indonesia itu dosen Fisika ITB). Saya
saja juga tidak mengerti
Selanjutnya pertanyaan umum.
Apa yang akan saya lakukan seusai pendidikan di Jepang. Apakah saya
pernah keluar negeri. Apakah saya juga apply beasiswa lain.
Bagaimana pendapat saya, permasalahan apa di Indonesia yang sangat
penting untuk diselesaikan. Apakah saya sudah kontak dengan profesor di
Jepang.
Nah, berikutnya pertanyaan
yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Saya sudah Googling
sebelumnya, dan cerita beberapa orang, ada yang ditanya tentang politik.
Saya sudah menyiapkan jawaban kalau-kalau saya dimintai pendapat soal
PilPres. Ternyata eh ternyata, si bapak orang Jepang nanya tentang
Minangkabau!
. Beliau melihat tempat lahir saya, Bukittinggi (senang juga Bukittinggi dikenal sama orang Jepang
)
Saya ditanyai, “Kalau di
Minangkabau, kan katanya kedudukan perempuan lebih tinggi dari
laki-laki. Nah, dalam rumah tangga apakah kedudukan istri lebih tinggi
dari suami?” Argh
.
Saya sampai bingung menjawabnya. Menjelaskan dalam bahasa Indonesia
saja susah, apalagi dalam bahasa Inggris. Saya cuma bisa bilang,
intinya, istri tidak lebih tinggi dari suami. Huhu. Saya sampai
garuk-garuk kepala saking bingungnya. Si bapak akhirnya bilang “it’s OK, it’s OK”.
Si bapak orang Indonesia juga ikutan nanya. “Orang Minang dan Jepang kan sama-sama berpegang teguh sama adat/culture-nya.
Apakah ada perbedaan karakter orang Minang dengan orang Jepang? Atau
sama?”. Haiyah. Waduh bapak, mana tau saya orang Jepang seperti apa.
Saya bilang saja saya tidak tahu. Ah, tidak teringat sedikitpun waktu
itu buat menjawab dengan sedikit lebih elegan. Saya cuma bilang, I don’t know.
Kerenan dikit kek dengan bilang “Saat ini saya tidak tahu jawabannya
Pak. Mungkin kalau saya sudah di Jepang nantinya saya bsa menjawab
pertanyaan tersebut.” 
Mengetahui saya anak UKM,
saya ditanya lagi, kira-kira apa yang bisa saya lakukan nanti di Jepang
terkait latar belakang budaya saya sebagai orang Minangkabau. Hmm…
Bingung juga. Saya jawab saja, saya bisa nari, mungkin nanti di sana
saya bisa mengajarkan tarian tradisional Minangkabau.
Apa lagi ya? Oh iya, melihat saya pakai jilbab, si bapak bilang “Anda kan muslim yang taat. Strict
mungkin. Di Jepang, paling makanan halal yang bisa Anda temui hanya
ikan dan sayuran. Gimana?”. Yah, saya jawab saja, saya bisa masak
sendiri. Lagi pula saya juga lebih suka ikan dibanding ayam atau daging.
Hohohoho.
Saya juga ditanyai apakah
saya sudah belajar bahasa Jepang. Kebetulan waktu itu saya sudah mulai
belajar bahasa Jepang. Sedang les tepatnya. Lalu saya diminta untuk
berbicara dalam bahasa Jepang. Yang saya bisa hanyalah memperkenalkan
diri. Akhirnya saya memperkenalkan diri saja sedikit, kebetulan di
pertemuan les sebelumnya juga disuruh memperkenalkan diri, hihi. “Watashi
wa Reisha desu. Watashi wa gakusei desu. Bukittinggi kara kimashita.
Ima Bandung ni sundeimasu. Dozo yoroshiku onegaishimasu.” Segitu aja. Hihihi. Si bapak malah tepuk tangan dan bilang “sugoooi”. Ckckck.
Apalagi ya? Itu aja deh
kayanya yang saya ingat. Pertanyaan soal Minangkabau tidak akan saya
lupakan. Yang lain dibantai soal risetnya, saya malah ditanyai soal
Minangkabau. Hehe. Dari 5 orang tadi, kayanya wawancara saya yang paling
sebentar. Bingung saya. Tapi ya sudahlah ya. Pokoknya semua ujian sudah
beres. Saya tinggal tunggu hasilnya, sembari berdoa, semoga saya
diberikan hasil yang terbaik.
Bersambung… (next: after primary screening)


0 komentar:
Posting Komentar