Jumat, 11 November 2011

REISHA: Wawancara Beasiswa Monbukagakusho 2010

Tulisan sebelumnya… (prev: tes tertulis)
Nah, ini lanjutan tulisan sebelumnya tentang pengalaman saya hingga akhirnya mendapatkan beasiswa MEXT. Kali ini cerita tentang wawancaranya. Wawancara dilaksanakan secara marathon selama sekitar 2 minggu untuk sekitar 100 pelamar. Jadwalnya berupa sesi-sesi, dan dalam tiap sesi ada 5 orang yang akan diwawancara.
Jadwal wawancara saya 17 Juli 2009, hari di mana ada bom meledak di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton yang membuat MU tidak jadi ke Indonesia. Ckckck. Sempat pagi itu salah satu bapak-bapak yang akan mewawancara bertanya pada kami, ‘ada yang lewat Kuningan tadi pagi?’. Yang juga akan wawancara pagi itu ada Mbak Irma, Mbak Pradanti, Rizki, dan Mas Ino. Yang saya kenal cuma Mas Ino, kakaknya si Presiden KM-ITB. (belakangan saya ketahui lima-limanya mendapatkan beasiswa ini, yatta :D )
Oia, jika Anda bertanya tips buat wawancara beasiswa ini, mungkin saya hanya bisa kasih tips, berpakaianlah yang rapi, minimal kemeja (saya pakai kemeja waktu itu, bela-belain beli kemeja baru karena ga pede pakai kemeja yang sudah ada :P ). Bersepatu. Tenang. Bersikap apa adanya saat wawancara, tidak usah jadi orang yang sok tahu kalau memang Anda tidak tahu harus menjawab apa. Saya ingat kata seorang teman, menurutnya, dalam wawancara apapun, pewawancara bukanlah ingin melihat seberapa hebatnya Anda, sekeren apakah riset Anda, sejago apakah bahasa Inggris Anda, tapi ingin melihat Anda itu orangnya seperti apa. Ya, saya ingat pendapat ini selalu supaya saya bisa tenang.
Saya orangnya grogian untuk berbicara di depan umum ataupun dalam wawancara. Pewawancaranya 5 orang (3 orang Jepang, 2 orang Indonesia), menggunakan bahasa Inggris atau Jepang. Harapan saya satu-satunya tentunya bahasa Inggris, mana bahasa Inggris saya sangat kacau pula :( Ini kali pertamanya saya wawancara resmi, pakai bahasa Inggris pula. Ah, jantung ini dag dig dug tidak karuan…
Yang ditanyakan apa saja? Yang pasti Anda pasti ditanyai seputar riset Anda dan alasan kenapa memilih Jepang. Lainnya, tiap orang akan berbeda-beda. Toh wawancara tidak akan ada yang persis sama kan? Tidak seperti tes tertulis :)

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Saya

Dari 5 orang tersebut, saya dapat urutan keempat. Tiap ada yang keluar dari ruangan wawancara, kami pasti saling nanya, “ditanyain apa aja?”. Argh. Deg degan. Akhirnya nama saya dipanggil. Sebelum masuk, lagi-lagi saya berdoa, ‘ya Allah, jika memang ada jalan buat saya ke Jepang, maka mudahkanlah’. (gym)
Ruangan wawancara adalah ruangan yang sama yang dipakai untuk tes tertulis. Besar sekali, mungkin sekitar 10m x 10m. Makin deg degan saja. Saya berusaha setenang mungkin. OK, pewawancaranya semuanya bapak-bapak. Salah satu orang Jepang bahasa Inggrisnya tidak terlalu jelas. Ya sudah, hajar saja, bahasa Inggris saya juga tidak jelas. :D
Pertama kali, standar lah, disuruh memperkenalkan diri. Saya sudah siapkan bahan perkenalan saya, eh pas di ruangan malah lupa. Saya hanya menyebutkan nama dan latar belakang pendidikan saya. Sampai-sampai si bapak bilang “udah, segitu saja?” (doh) (in English tentunya). Si bapak yang lain, mengetahui saya dari ITB, langsung nanya “ikut UKJ?”. “Wah nggak Pak”. “Oh, ikut UKM ya?”. “Iya Pak”. Ahahay, senang juga UKM dikenal :P
Berikutnya saya disuruh menjelaskan topik riset saya. Jadilah saya nyerocos soal topik riset saya, yang kebanyakan hapalan dari proposal yang saya tulis saja :P Bapak-bapak itu kayanya ga terlalu mengerti soal riset saya. Seringkali beberapa dari mereka mengerutkan kening. Jadi kuatir.
Sebentar banget saya ditanya soal riset saya, sama-sama bingung kali ya :P Wajar kalau bapak-bapak itu tidak mengerti karena di luar bidang keahliannya (kabarnya yang orang Indonesia itu dosen Fisika ITB). Saya saja juga tidak mengerti :lol:
Selanjutnya pertanyaan umum. Apa yang akan saya lakukan seusai pendidikan di Jepang. Apakah saya pernah keluar negeri. Apakah saya juga apply beasiswa lain. Bagaimana pendapat saya, permasalahan apa di Indonesia yang sangat penting untuk diselesaikan. Apakah saya sudah kontak dengan profesor di Jepang.
Nah, berikutnya pertanyaan yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Saya sudah Googling sebelumnya, dan cerita beberapa orang, ada yang ditanya tentang politik. Saya sudah menyiapkan jawaban kalau-kalau saya dimintai pendapat soal PilPres. Ternyata eh ternyata, si bapak orang Jepang nanya tentang Minangkabau! (doh). Beliau melihat tempat lahir saya, Bukittinggi (senang juga Bukittinggi dikenal sama orang Jepang :D )
Saya ditanyai, “Kalau di Minangkabau, kan katanya kedudukan perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Nah, dalam rumah tangga apakah kedudukan istri lebih tinggi dari suami?” Argh (doh). Saya sampai bingung menjawabnya. Menjelaskan dalam bahasa Indonesia saja susah, apalagi dalam bahasa Inggris. Saya cuma bisa bilang, intinya, istri tidak lebih tinggi dari suami. Huhu. Saya sampai garuk-garuk kepala saking bingungnya. Si bapak akhirnya bilang “it’s OK, it’s OK”.
Si bapak orang Indonesia juga ikutan nanya. “Orang Minang dan Jepang kan sama-sama berpegang teguh sama adat/culture-nya. Apakah ada perbedaan karakter orang Minang dengan orang Jepang? Atau sama?”. Haiyah. Waduh bapak, mana tau saya orang Jepang seperti apa. Saya bilang saja saya tidak tahu. Ah, tidak teringat sedikitpun waktu itu buat menjawab dengan sedikit lebih elegan. Saya cuma bilang, I don’t know. Kerenan dikit kek dengan bilang “Saat ini saya tidak tahu jawabannya Pak. Mungkin kalau saya sudah di Jepang nantinya saya bsa menjawab pertanyaan tersebut.” (doh)
Mengetahui saya anak UKM, saya ditanya lagi, kira-kira apa yang bisa saya lakukan nanti di Jepang terkait latar belakang budaya saya sebagai orang Minangkabau. Hmm… Bingung juga. Saya jawab saja, saya bisa nari, mungkin nanti di sana saya bisa mengajarkan tarian tradisional Minangkabau. :P
Apa lagi ya? Oh iya, melihat saya pakai jilbab, si bapak bilang “Anda kan muslim yang taat. Strict mungkin. Di Jepang, paling makanan halal yang bisa Anda temui hanya ikan dan sayuran. Gimana?”. Yah, saya jawab saja, saya bisa masak sendiri. Lagi pula saya juga lebih suka ikan dibanding ayam atau daging. Hohohoho.
Saya juga ditanyai apakah saya sudah belajar bahasa Jepang. Kebetulan waktu itu saya sudah mulai belajar bahasa Jepang. Sedang les tepatnya. Lalu saya diminta untuk berbicara dalam bahasa Jepang. Yang saya bisa hanyalah memperkenalkan diri. Akhirnya saya memperkenalkan diri saja sedikit, kebetulan di pertemuan les sebelumnya juga disuruh memperkenalkan diri, hihi. “Watashi wa Reisha desu. Watashi wa gakusei desu. Bukittinggi kara kimashita. Ima Bandung ni sundeimasu. Dozo yoroshiku onegaishimasu.” Segitu aja. Hihihi. Si bapak malah tepuk tangan dan bilang “sugoooi”. Ckckck.
Apalagi ya? Itu aja deh kayanya yang saya ingat. Pertanyaan soal Minangkabau tidak akan saya lupakan. Yang lain dibantai soal risetnya, saya malah ditanyai soal Minangkabau. Hehe. Dari 5 orang tadi, kayanya wawancara saya yang paling sebentar. Bingung saya. Tapi ya sudahlah ya. Pokoknya semua ujian sudah beres. Saya tinggal tunggu hasilnya, sembari berdoa, semoga saya diberikan hasil yang terbaik. :)
Bersambung… (next: after primary screening)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger