Tulisan sebelumnya… (prev: tentang beasiswa)
Kali ini saya akan menceritakan
pengalaman saya hingga akhirnya saya mendapatkan beasiswa MEXT
(Monbukagakusho/Monkasho/Monbusho) program Research Student. Cerita pengalaman saya ini akan saya pisah ke dalam beberapa tulisan
Tahap paling awal untuk mendapatkan
beasiswa apapun tentunya melakukan pendaftaran. Pada tahap ini kita
harus menyiapkan segala dokumen yang diperlukan. Telitilah dalam
menyiapkannya, jangan sampai ada yang terlewat (berapa jumlah asli,
berapa jumlah fotokopi). Kedubes tidak akan menerima dokumen yang tidak
lengkap.
Dokumen apa saja yang diperlukan? Ini dia, saya tuliskan berurutan sesuai application procedure. Oh iya, sebelumnya, ada 4 form yang disediakan oleh Kedubes, yaitu Application Form, Field of Study and Study Program, Recommendation Form, dan Certificate of Health. 4 form tersebut bisa di-download atau diambil langsung di Kedubes. (skip saja 1-10 kalau tulisan saya kepanjangan :p)
1. Application Form
Form ini isinya data
pribadi dan riwayat hidup. Ada banyak data yang harus diisi dengan
benar. Jadi, sekali lagi, telitilah. Jangan sampai membuat kesalahan.
2. Field of Study and Study Program
Form ini berisi
penjelasan mengenai area studi kita serta rencana dan topik riset
nantinya di Jepang. Jika Anda Googling form ini harus diisi seperti apa,
jawabannya akan macam-macam. Ada yang cuma memberikan gambaran singkat
dalam form yang ada, ada juga yang melampirkan semacam proposal riset.
Kalau versi saya, bagian detail riset saya saya kelompokkan ke dalam
beberapa subbab, di antaranya tujuan, objektif, outline, dan metodologi.
Ya standar seperti proposal ilmiah lah, tapi dibuat lebih simpel.
Saya sendiri termasuk
beruntung soal topik riset ini. Topik riset saya buat sendiri hanya
dalam semalam, tidak sempat direvisi oleh dosen saya di ITB, apalagi
sama profesor di Jepang. Hihi. Berhari-hari saya sibuk memikirkan topik
apa yang akan saya ajukan dan mencari bahan-bahan, belum memutuskan apa
topiknya. Yang namanya anak IF ITB sudah identik dengan deadliner, saat waktu sudah mepet barulah si otak ini encer. Hehehe… Waktu itu saya nekat saja, yang penting berkas-berkasnya lengkap
Tapi saya sarankan,
jangan tiru saya. Hehehe.Lebih baik proposal riset ini disiapkan dari
jauh-jauh hari. Jika Anda memang berniat mencari beasiswa S2 atau S3 ke
luar negeri, sebagian besar beasiswa, setau saya, mensyaratkan topik
riset. Lebih baik lagi jika Anda bisa konsultasi dengan dosen di kampus
sehingga proposal Anda bisa direvisi. Dan lebih baik lagi jika Anda
sudah berkorespondensi dengan profesor di universitas yang ingin Anda
tuju dan mengonsultasikan topik riset Anda kepada beliau.
Mengenai topik riset
sendiri, buatlah topik riset yang menarik dan berbobot. Katanya topik
riset ini cukup mempengaruhi aplikasi kita diterima atau tidak. Topik
ini bisa dicari sendiri, ataupun mencari topik riset yang ada pada
lab-lab di universitas di Jepang.
3. Photograph
Pas foto. Standarlah.
Tertulisnya sih dimintanya 4,5 x 3,5 cm. Jarang sih ukuran seperti ini
di Indonesia. Waktu itu saya masukkan saja ukuran 4×6. Buat yang
berjilbab seperti saya, tidak usah kuatir memasukkan foto yang
berjilbab. Di persyaratan memang tertulis uncapped photograph, tapi cap yang dimaksud di sana adalah topi dan sejenisnya. Jilbab tidak tergolong cap. Jangan sampai melepas jilbab hanya karena beasiswa
4. Academic Transcript
Transkrip yang diminta adalah yang dalam bahasa Inggris. Jika Anda belum lulus, mintalah transkrip terbaru.
5. Recommendation from University
Ini isinya rekomendasi
dari dosen Anda di kampus. Gunakan form yang disediakan oleh Kedubes dan
mintalah dosen untuk mengisinya dengan bahasa Inggris.
6. Recommendation from Employer
Ini diisi hanya jika Anda sudah bekerja. Waktu itu saya belum bekerja, lulus saja belum. Hehehehe.
7. English or Japanese Proficiency Certificate
Bentuknya berupa TOEFL
atau JLPT. Salah satunya saja. Tentang TOEFL sendiri, bebas, bisa saja
TOEFL institusional (ITP), internasional (iBT), bahkan prediksi
(biasanya bisa diambil di lembaga kursus bahasa Inggris). Waktu itu saya
memasukkan TOEFL prediksi saja, lagi-lagi nekat. Waktu saya sudah mepet
sehingga tidak mungkin untuk mendapatkan TOEFL ITP. Kalau mau ambil
TOEFL iBT, biayanya sangat mahal (waktu itu $150), hehe. Untuk
mendapatkan skor >550 saya sampai ambil tes 2x. Tes pertama soalnya
cuma dapat 533. Riskan sekali kalau kita memasukkan TOEFL di bawah yang
disyaratkan
8. Medical Certificate
Atau simpelnya,
keterangan kesehatan. Ini akan cukup menguras dompet, jadi siapkan dana.
Hehe. Untuk mengisi form ini kita perlu tes darah dan rontgen (chest x-ray).
Untuk yang di ITB, Anda bisa melengkapi form ini di Bumi Medika
Ganesha. Dokternya sudah pengalaman mengisikan form ini. Tes darah dan
rontgen juga bisa langsung di sana. Biayanya waktu itu kalau tidak salah
Rp 119.500 untuk tes darah dan Rp 45.000 untuk rontgen.
9. Graduation Certificates
Semua ijazah degree yang dipunya (S1, S2). Lampirkan terjemahan bahasa Inggrisnya. Waktu apply,
saya belum lulus, jadi diganti dengan surat keterangan dari kampus yang
menyatakan bahwa saya akan lulus pada Oktober 2009 (target lulus saya).
10. Abstracts of Theses
Abstrak dari tugas akhir/skripsi dan tesis (kalau sudah S2). Waktu apply,
TA saya bahkan baru sampai bab 3, yang artinya saya belum dapat
kesimpulan akhir dari TA saya. Hehe. Lagi-lagi saya nekat, saya tulis
saja kesimpulan yang kira-kira akan saya dapatkan. Hihihi. Yang penting
TA saya apa sudah tergambar
***
Itu dia dokumen-dokumennya. Dokumen ini
harus sampai di kedubes paling lambat sesuai batas waktu yang diberikan.
Jadi jika Anda tidak akan mengantar langsung berkas-berkas tersebut ke
Kedubes, perhitungkanlah waktu pengiriman.
Lagi-lagi saya deadliner waktu itu. Deadline-nya 22 Mei 2009. 21 Mei 2009 tanggal merah yang artinya kantor-kantor tutup. Saya putuskan deadline
saya maksimal 19 Mei 2009 berkas sudah diantar ke kantor pos, karena
saya tidak bisa mengantar langsung dokumen ke Jakarta. Harap-harap cemas
juga waktu itu. Saya cuma berdoa, ‘ya Allah, jika memang ada jalan buat
saya ke Jepang, maka mudahkanlah’.
Oiya, untuk berkas-berkasnya, jika memang
dikirimkan, susunlah berurutan sesuai urutan yang ada di atas. Susun
yang rapi. Amannya memang diantar langsung, karena jika ada kesalahan
bisa langsung diperbaiki.
Kedubes akan menyeleksi dokumen yang
masuk dari seluruh Indonesia. Nantinya akan diambil sekitar 100 orang.
Waktu itu di web Kedubes tertera ‘Ujian tertulis Bahasa Jepang dan
Bahasa Inggris akan dilaksanakan di Jakarta, Surabaya, Medan pada awal
Juni 2009.’ Artinya, dalam perhitungan saya, hasil seleksi dokumen ini
akan diumumkan pada awal Juni.
Bulan Juni pun datang. Awal Juni masih
belum ada kabar. Pertengahan, hingga akhir Juni, juga masih belum ada
kabar. Waktu itu saya sudah benar-benar pasrah. Rasanya saya sudah
mengerahkan usaha saya semaksimal mungkin untuk mendaftar beasiswa ini.
Dari bulan Februari 2009 saya cari-cari informasi, tanya-tanya sama
senior. Saya juga coba-coba belajar bahasa Jepang. Saya juga sudah
berdoa sebanyak-banyaknya. Juni berakhir, masih belum ada kabar
Akhirnya, kalau tidak salah tanggal 8
Juli 2009, saya ditelepon mama. Mama saya bilang, barusan beliau
ditelepon Kedubes memberitahukan jadwal tes tulis dan wawancara saya.
Huaaa… Alhamdulillah. Biasanya sih Kedubes menelepon langsung ke yang
bersangkutan, cuma waktu itu katanya Kedubes tidak bisa menghubungi HP
saya. Kenapa ya? Apa karena HP saya waktu itu lagi saya pake buat
online… online… ? :p
Saya pastikan lagi ke Kedubes bahwa
jadwal tes tertulis 13 Juli 2009 dan jadwal wawancara saya 17 Juli 2009.
Alhamdulillah. Lagi-lagi saya berdoa, ‘ya Allah, jika memang ada jalan
buat saya ke Jepang, maka mudahkanlah’.
Bersambung… (next: tes tertulis)


0 komentar:
Posting Komentar