Tinggal di Jepang
Saya belum pernah tinggal di luar negeri selain Jepang, namun dengan
kemampuan berbahasa Jepang yang saya miliki, saya merasakan kehidupan di
Jepang begitu menyenangkan. Kekurangan dengan tinggal di Jepang adalah
tentunya berkurangnya kesempatan menggunakan bahasa Inggris. Biaya hidup
mungkin memang tinggi, tapi selama mendapat beasiswa yang cukup rasanya
itu bisa diakomodasi, termasuk di dalamnya uang kuliah yang relatif
murah kalau dibanding dengan di negara-negara seperti Amerika, Inggris
atau Australia. Kesempatan untuk bekerja paruh waktu pun terbuka lebar.
Kalau melihat perjuangan teman-teman dari Cina maupun Korea misalnya,
mereka rata-rata tidak mendapatkan beasiswa juga tidak semua datang dari
keluarga kaya, toh mereka bisa survive tinggal di Tokyo misalnya. Tidak
lain dan tidak bukan, karena mereka berjuang keras untuk itu dengan
kerja paruh waktunya bahkan sampai mengorbankan waktu tidurnya. Semangat
seperti itu yang mungkin masih kurang di antara kita bangsa Indonesia.
Beasiswa pertama saya habis seiring dengan lulusnya saya dari program
S1. Untuk melanjutkan studi tentunya saya membutuhkan beasiswa lain.
Mencari beasiswa lain tidak mudah namun tetap kemungkinan itu selalu
ada. Walau tergantung universitasnya, namun tawaran beasiswa untuk
mahasiswa asing yang berbagai jenis macam dan besarnya tetap ada. Walau
sulit tentunya kemungkinan mendapat beasiswa selalu terbuka. Di
universitas saya, kebetulan tawaran beasiswa banyak sekali, hanya saja
karena di kampus saya banyak sekali mahasiswa asing sehingga biasanya
ada seleksi untuk tiap-tiap beasiswa yang memerlukan rekomendasi dari
universitas. Sebaliknya di universitas lain, walau tawaran beasiswa
sedikit, namun karena jumlah mahasiswa asingnya sedikit, kesempatan
mendapatkan beasiswa menjadi besar. Hanya siswa yang lulus seleksi yang
akan direkomendasikan universitas untuk bisa mendaftar beasiswa
tersebut. Selain melalui jalur kampus, ada juga jenis beasiswa yang bisa
diakses oleh setiap mahasiswa asing tanpa melalui kampus, alias daftar
langsung. Tentunya untuk memperoleh beasiswa jenis ini pun ada
seleksinya. Untuk beasiswa dengan cara mendaftar langsung seperti ini,
peran “menjual diri” dalam bahasa Jepang sangat signifikan dalam menulis
formulir dan saat seleksi wawancaranya. Beasiswa-beasiswa yang saya
sebutkan ini biasanya datang dari perusahaan-perusahaan, dan hampir
semua tidak menyaratkan perjanjian khusus setelah program beasiswa
berakhir. Selain itu ada beasiswa yang diberikan dari universitas.
Sebagai pengalaman pribadi, saya mendapat beasiswa Epson selama 2
tahun setelah lulus seleksi di kampus dan direkomendasikan universitas.
Setelah direkomendasikan universitas, biasanya kemungkinan mendapat
beasiswa tersebut menjadi sekitar 90%. Selain itu saya juga sedang
mendapat beasiswa Tokyu melalui jalur daftar langsung. Sebagai gambaran
saat saya mendaftar beasiswa Tokyu itu perbandingan jumlah siswa yang
lulus seleksi dan yang mendaftar adalah 18/950. Program beasiswa lain
biasanya hanya menyediakan 10 tempat untuk penerima beasiswa baru setiap
tahunnya. Besar beasiswa tiap-tiap program berbeda begitu pula dengan
waktu penerimaan beasiswa, ada yang satu tahun ada pula yang dua-tiga
tahun.
Penyebaran informasi
Banyak teman-teman yang mengeluhkan tidak menyebarnya
informasi-informasi beasiswa terutama untuk lulusan SMA di daerah-daerah
menyebabkan penerima beasiswa terutama di masa lalu terpusat untuk
pelajar-pelajar di kota besar. Beruntunglah pelajar yang sekolahnya
menyediakan informasi-informasi tersebut, namun jelas tidak semua
sekolah seperti itu. Berkat internet, penyebaran informasi beasiswa di
Indonesia menjadi lebih baik dibanding 10 tahun lalu, yang hanya bisa
dibaca melalui pengumuman di surat kabar tertentu seperti Kompas
misalnya. Salah satu cara lain, adalah kontribusi penerima beasiswa
untuk menyebarkan informasi tersebut ke almamaternya. Cara ini lah yang
saya tempuh selama ini sebagai kontribusi saya kepada almamater,
mengingat saya juga mendapat beasiswa pertama kali melalui SMA saya itu.
Namun sayangnya tidak banyak yang melakukan cara tradisional seperti
ini dengan berbagai alasan. Cara lain untuk memperoleh banyak informasi
mengenai beasiswa di luar negeri terutama untuk pasca sarjana, adalah
melalui mailing list (milist) beasiswa@yahoogroups.com yang memiliki
member sampai ribuan banyaknya. Saya yang juga member di mailing list
sangat salut terutama kepada moderator-moderator milist ini yang banyak
mengshare berbagai informasi beasiswa di situ.
Membaca tulisan-tulisan yang muncul di milist itu, terasa bahwa
semangat untuk sekolah di luar negeri bagi banyak orang Indonesia
meningkat yang mungkin perlu disimak bagi kita semua yang sudah sukses
mendapat beasiswa dan studi di luar negeri agar semangat kita semua
untuk belajar keras tidak luntur saat sudah tiba dan belajar di luar
negeri walaupun menemui berbagai kesulitan dalam hidup di negara asing.
Karena memang hidup di negara asing tidak mudah.
Catatan terakhir saya berikan kepada pencari beasiswa yang berminat
sekolah di Jepang. Yaitu jangan biarkan sikap ‘ingin selalu disuapi’
dalam mencari informasi. Dengan adanya internet, informasi-informasi
untuk kehidupan di Jepang misalnya tentunya semakin mudah dicari,
misalnya melalui situs berikut http://www2.jasso.go.jp/index_e.html atau
pengumuman tawaran beasiswa http://www.dikti.org/beasiswa/. Membaca
pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di milist PPI-Jepang pun
membuat saya perlu menekankan agar pencari beasiswa lebih aktif dan
mampu mendefinisikan studi dan minat riset yang diinginkan. Karena
kadang ada permohonan bantuan untuk mencarikan contact Professor di
bidang TI untuk bisa mendaftar beasiswa Monbukagakusho untuk
paska-sarjana misalnya tanpa penjelasan lebih detil tentang bidang riset
yang diminati, atau bahkan identitas pribadinya. Orang lain pun
tentunya akan sulit dan malas membantu kalau tidak melihat kesungguhan
pencari informasi. Yang terbaik adalah usahakan mencari informasi
sendiri melalui internet atau kalau tinggal di Jakarta dan sekitarnya,
bisa berkunjung ke Pusat Kebudayaan Jepang misalnya untuk dapat bertanya
lebih lanjut untuk studi ke Jepang dan prosedur-prosedurnya. Lalu
setelah usaha untuk mencari contact Professor dilakukan namun tidak
membuahkan hasil, barulah mencoba bertanya. Namun tentunya jangan
terlalu mengharapkan akan datangnya jawaban dengan cepat. Karena
tentunya orang lain yang berbeda bidang keahliannya, tidak mampu
memberikan saran, belum lagi karena kesibukan orang yang ditanya.
Penutup
Biaya sekolah yang semakin tinggi dari tingkat Taman Kanak-kanak
sampai perguruan tinggi di Indonesia akhir-akhir terasa begitu
memprihatinkan. Bagi penulis hal itu menjadi ironis dengan kenyataan
bahwa dengan tinggal di Tokyo yang tahun ini kembali terpilih sebagai
kota yang termahal di dunia ternyata mengantarkan untuk tidak sekedar
lulus S1, namun juga S2 dan sekarang studi S3 tanpa biaya dari orang
tua. Semoga anak-anak Indonesia mendapat haknya untuk bisa menikmati
pendidikan dengan biaya yang terjangkau.
Sumber: Buletin Inovasi PPI Jepang
Jumat, 11 November 2011
Danardono Dwi Antono Mahasiswa Program Doktor di Tokyo University PART 3 OF 3
Posted by Admin on 05.06


0 komentar:
Posting Komentar