Post ini tentang cerita persiapan Monbukagakusho Scholarship
yang cukup pendek. Monbukagakusho adalah beasiswa dari pemerintah
Jepang yang diberikan kepada beberapa negara yang memiliki hubungan
diplomatik dengan Jepang, tentu saja Indonesia adalah salah satunya.
Beasiswanya pun bervariasi mulai dari tingkat Diploma, S1, S2, S3 hingga
post doctoral.
Dulu keinginan untuk bisa sekolah ke Jepang sangat menggebu-gebu.
Beberapa faktor pemicunya adalah kekaguman terhadap kultur orang-orang
Jepang seperti musik, film, budaya, termasuk etika dan juga penguasaan
mereka terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan. Era penjajahan
konvensional sebagian besar memang sudah lewat. Tapi seharusnya jika
berpikir ternyata kita tetap dijajah dengan mode penjajahan baru. Paling
nyata adalah invansi produk. Indonesia market yang sangat wah untuk
bangsa mana pun bisa menjajah. Silakan cek merk mobil anda, liat merk
motor balap anda yang canggih dan cukup mahal, lihat juga merk laptop,
kemudian ingat sushi enak yang anda makan minggu lalu di Grand
Indonesia? Ok stop sepertinya post ini sudah agak melebar. :p
Kembali masalah motivasi studi ke Jepang. Dulu saya berkomitmen
mutlak jika bisa kuliah lagi ke luar maka pilihan pertama adalah Jepang.
Namun belakangan nampaknya komitment tersebut sudah agak bisa
dikompromikan. Studi ke mana saja boleh, yang penting ilmunya berkah,
tapi ya jika bisa di negara yang menyenangkan untuk dijelajahi. As some of you might know, I am traveling addict that rarely to travel. :p Namun memang tak terbantahkan Jepang is the best.
Meski kemarin belum lama sempat gempa, dan biasanya gempa adalah bagian
kehidupan sehari-hari di sana komitmen untuk mencoba peruntungan bisa
kuliah ke sana masih ada biar tak semutlak dulu.
Sekitar April 2011 kedutaan Jepang di Jakarta membuka Monbukasho untuk research student.
FYI, untuk bisa kuliah S2 di Jepang melalui Monbukagakusho, kita harus
melalui fase yang disebut research student. Lamanya sekitar 6 bulan.
Selama masa ini hal yang harus kita lakukan adalah Belajar Bahasa Jepang
dan mempersiapkan topik penelitian master. Pada akhir masa research
student barulah akan diputuskan apakah kita layak lanjut ke S2 atau
tidak. Dibuka April, aplikasi harus masuk kedutaan paling lambat 11 Mei
2011. Alhamdulillah sebelumnya sudah melamar beasiswa depkominfo
sehingga beberapa persyaratan penting seperti TOEFL (meski hanya
institusional TOEFL) dan ijasah yang sudah diterjemahkan sudah di
tangan. Merasa sudah aman dan berhubung saya deadline lover, maka saya hobi berleyeh-leyeh ria hingga ujung tanduk waktu. Hingga agak panik ketika harus mempersiapkan 2 recommendation letter.
Recommendation letter pertama saya minta dari dosen yang cukup dekat
dengan saya. Demi recommendation letter ini pula saya harus rela ngebut
malam-malam Sudirman – UI Depok – Jonggol untuk mendapat tanda tangan di
surat rekomendasi yang sudah dikirim oleh dosen saya itu via email.
Recommendation letter kedua adalah dari employer. And this the bit part.
Tak bermaksud suudzon tapi HRD kantor agak kurang kooperatif. Apalagi
untuk urusan yang mereka pikir tidak memberikan manfaat bagi mereka.
Saya sudah meminta surat rekomendasi sejak 3 minggu sebelumnya. Namun
menjelang tenggat akhir hampir tak ada gubrisan sama sekali. HRD
beralasan bahwa direktur tak ada di tempat dan tak bisa meminta tanda
tangan. Beda jika yang memerlukan urusan adalah pekerja ekspatriat.
Semua terlihat selalu lancar. Hmm I hate discrimination and will not to act like that to other.
Ya sudahlah tak patah semangat akhirnya saya meminta tolong supervisor
saya saja yang memberi rekomendasi. Alhamdulillah beliau setuju. Meski
akhirnya surat rekomendasi tersebut harus melenggang tanpa stempel
kantor tak apalah. Jika memang rejeki ya pasti masuk, jika belum masuk
ya belum rejeki.
Semua pesyaratan yang berkaitan dengan pihak ketiga sudah siap.
Tinggal dokumen-dokumen personal yang harus saya siapkan. Application
Form, motivation of study dan research topic. Saya cukup ingat
mempersiapkan itu semua satu malam sebelum submit aplikasi di tanggal
deadline. Yup saya deadline lover. Maka dengan Bahasa Inggris yang acak
kadut malam deadline tersebut saya bergerilya menyelesaikan semua
dokumen tersebut. Hal tersulit adalah research topic. Dalam semalam saya
harus mencari topik apa yang jika seandainya saya bisa lulus sampai
kuliah akan saya jadikan topik penelitian. Jadi malam itu saya
bergerilya masuk ke web-web universitas Jepang, kemudian ke
portal-portal research mencari topik computer science. Akhirnya satu
topik pun melintas di kepala saya. Semantic web. Untuk dokumen research
topic yang saya submit bisa dilihat di sini.
Rabu 11 Mei 2011, tenggat terakhir Monbukagakusho Research Student.
Beruntungnya punya kantor di sekitaran Sudirman adalah mudah untuk pergi
ke mana-mana. Kedutaan Jepang ada di Thamrin jika dari kantor 2 kali
koprol harusnya nyampe. :p Sekitaran jam makan siang dengan semua
dokumen yang sudah rapih rangkap 4 saya ngacir ke Thamrin. Berhubung
Jakarta kurang bersahabat dengan pengendara motor dan Velfire yang saya
indent belum kunjung datang saya memutuskan naik 3/4 orenji bus (baca:
Metro Mini). Sampai di Kedutaan Jepang dalam 10 menit langsung ke
gerbang kedutaan. Celaka 19, ternyata sedang istirahat makan siang dan
baru buka lagi pukul 13.30 padahal saat itu baru pukul 12.15. Waduh
nunggu satu jam lebih. Akhirnya saya putuskan ngider dulu ke EX karena
kebetulan teman-teman sedang makan siang di Grand Indonesia. Mengatur
jam saya kembali tepat 13.30 ke kedutaan Jepang. Jika melihat kedutaan
Jepang saya selalu teringat Takeshi Castle. Reality show yang cukup
terkenal. Temboknya sangat tinggi. Dan terkadang juga saya berimajinasi
mereko memarkir satu robot Patlabor atau Gundam di dalam kedutaan. :p
Masuk ke kedutaan seperti umumnya masuk ke gedung-gedung lain, titip
ID, dapat visitor card, saya langsung naik ke ruang perpustakaan di
lantai 2. Sudah cukup ramai para aplicant yang mengantri. Ada
sekitar 8 orang yang mengantri. Menunggu sekitar 5 menit saya pun sampai
depan loker penyerah berkas. Petugas langsung memeriksa kelengkapan dan
lengkap. Mission accomplished! Langsung balik ke kantor naik Toyota Velfire Metro Mini lagi. Sebelum pulang sempat ngobrol-ngobrol dengan aplicant lain dan tukeran nomor hp.
Sekitar 5 tahun kemudian 1 bulan kemudian.
Di website kedutaan Jepang sudah dicantumkan jadwal ujian tertulis
akan dilaksanakan 12 Juni 2011. Artinya bagi yang lulus administrasi
berkas seharusnya akan dihubungi sebelum tanggal tersebut. Sejak 9 Juni
saya sudah cemas-cemas harap. Meski keinginan ke Jepang tidak terlalu
mutlak tapi rasanya sedih jika gagal. Akhirnya saya sms kenalan aplicant
yg tempo hari bertemu saat menyerahkan aplikasi. “Iya mas saya baru
saja ditelpon beberapa menit lalu untuk hadir tes tertulis”. Boink
boink. Alhamdulillah kata hati saya kepada teman saya tersebut. Namun
tak ingin menutup asa. Masih ada 3 hari menuju 12 Juni 2011. Siapa tahu
12 Juni pagi saya ditelpon mendadak untuk ikut tes tertulis. Siapa tahu
berkas saya lulus tapi terselip. Siapa tahu saya diundang tes gelombang
kedua. Siapa tahu saya langsung loncat ke interview tanpa tes tertulis.
Siapa tahu siapa tahu siapa tahu…. Namun sekarang sudah 15 Juni 2011 dan
tak ada seorang pun dari kedutaan Jepang yang menelepon. Ya sudahlah
memang belum rejeki. Namun hal menarik justru terjadi tanggal 10 Juni
2011. Sebetulnya agak down juga ketika merasa gagal tidak diundang tes
tertulis Monbukagakusho. Namun Allah Maha Besar, Jumat 10 Juni 2011 itu
di sore hari saya justru mendapat email dari Depkominfo yang menyatakan
saya diundang wawancara Kamis 16 Juni 2011 (nanti saya akan tulis
postnya jg). Jadi itu juga yang menjadi alasan saya tidak terlalu
terpukul ketika tak diundang tes tertulis. Ya inilah hidup. Sebagian
besar masalah pilihan. Memilih memulai atau diam saja. Lebih baik gagal
paling tidak sudah mencoba dari pada tak pernah mencoba sama sekali.
Tapi juga tentu saja lebih baik bisa berhasil dan sukses setelah
mencoba. We never know. 1. Ikhtiar, 2. Doa, 3. Serahkan pada yang di
atas.
Jumat, 11 November 2011
Cerita Monbukagakusho Scholarship
Posted by Admin on 04.48


0 komentar:
Posting Komentar