Lulus SMA, mendapat kesempatan studi ke luar negeri dengan beasiswa
yang cukup merupakan impian sejak kecil. Apalagi dengan beasiswa itu
kami tidak hanya dapat hidup layak dan mandiri di luar negeri, tapi juga
bisa mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan, mencicipi teknologi baru
dan menambah wawasan lain. Selain juga karena bisa segera hidup mandiri
di luar negeri tanpa bergantung pada bantuan keuangan dari orang tua
menumbuhkan suatu kebanggaan di hati. Bahkan sebaliknya, banyak dari
kami menyisihkan sebagian dari beasiswa, untuk membantu orang tua dan
kakak/adik, memberi kesempatan berbakti kepada orang tua, dan berbagi
kebahagian dengan anggota keluarga lain.
Menggapai mimpi
Dari kecil, salah satu impian saya adalah sekolah ke luar negeri.
Sekolah di negara yang turun salju saat musim dingin tiba, begitulah
angan-angan saya dulu. Beruntung sekali saya memiliki orang tua yang
walau tidak mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, namun
selalu memompakan semangat dan motivasi untuk belajar yang giat dan
menyarankan untuk selalu mencari informasi beasiswa ke luar negeri
karena itulah jalan satu-satunya agar saya bisa sekolah di luar negeri.
Saat itu biaya kuliah belum semahal sekarang, toh kuliah di PTS misalnya
tampaknya memberatkan bagi keluarga kami. Terinsipirasi kisah hidup
orang tua yang selalu menceritakan bahwa dulunya dia sudah bisa bekerja
sejak lulus SMA, saya pun berniat untuk bisa mandiri sejak lulus SMA.
Saat itu lah, saya berpikir singkat mendapat beasiswa full untuk kuliah
di luar negeri adalah jalan singkat merealisasi niat dan impian saya
tersebut.
Saya percaya bahwa mimpi tidak akan datang sendiri namun harus
diperjuangkan. Usaha untuk meraihnya perlu diniati dan disungguhi. Masuk
SMA, saya mulai buka mata pasang telinga. Rajin bertanya-tanya ke
guru-guru di SMA, mencari-cari info di surat kabar dimana saat itu
internet belum ada. Tentunya akan sangat berguna jika kita mencari
informasi beasiswa mulai dari 2 tahun sebelum lulus SMA. Minimal kita
tahu keberadaan program beasiswa itu yang pada saatnya setelah lulus SMA
kita tahu kepada siapa kita harus mencari tahu informasi beasiswa
tersebut. Tinggal di Jakarta, saat kelas 3 SMA, saya bahkan kadang
datang atau menelpon ke Kedutaan Besar / Pusat Kebudayaan Asing untuk
sekedar bertanya apakah ada beasiswa yang tersedia untuk lulusan SMA.
Dengan adanya internet, mencari informasi beasiswa untuk pelajar SMA
sekarang terutama yang tinggal di luar Jakarta tampaknya sudah tidak
sesulit dulu.
Satu hal yang saya sayangkan, bahwa angan-angan untuk kuliah di luar
negeri tidak mendominasi di hati-hati teman-teman SMA saya saat itu.
Beberapa di antaranya bahkan sudah enggan saat saya ajak untuk mencari
informasi beasiswa. Belakangan hari, saat saya ikut seleksi suatu
beasiswa, saya juga tidak merasa bahwa finalis-finalis yang ada saat itu
benar-benar sungguh-sungguh ingin bisa kuliah di luar negeri. Namun
sebaliknya saya juga salut dengan alumni-alumni dari sebuah SMA yang
sangat bersemangat bersama-sama mencari informasi-informasi
tawaran-tawaran beasiswa yang ada.
Mendapat beasiswa- NEXT
Jumat, 11 November 2011
Cerita Danardono Dwi Antono Mahasiswa Program Doktor di Tokyo University PART 1 OF 3
Posted by Admin on 04.58


0 komentar:
Posting Komentar