Mendapat beasiswa
Lulus SMA, saya mendapat beasiswa full dari Mitsui Bussan, sebuah
perusahaan Jepang, untuk studi Bahasa Jepang dan kuliah S1 di Jepang.
Yang saya maksud dengan beasiswa penuh adalah beasiswa yang terdiri dari
gaji bulanan (monthly allowance) dan biaya kuliah, karena ada beasiswa
lain yang hanya memberikan gaji bulanan saja. Dalam sistem seleksinya,
Mitsui Bussan bekerja sama dengan Dikdasmen dan eksklusif untuk SMA yang
ditunjuk Dikdasmen. Hal ini dilakukan untuk penghematan biaya
pelaksanaan, karena hanya 2-3 pelajar yang akan terpilih untuk menjadi
penerima beasiswa ini.
Walau sayangnya program beasiswa Mitsui Bussan berhenti mulai tahun
ini, namun di sini saya tuliskan tahap-tahap penyeleksian yang mungkin
berguna untuk kesempatan lain. Materi seleksi pertama adalah ujian tulis
Matematika dan Bahasa Inggris. Dari seleksi pertama terpilih sekitar
12-16 orang yang berhak ikut ujian kedua berupa tes kesehatan,
psikologi, maupun wawancara. Persiapan untuk wawancara begitu penting,
karena ini lah yang paling menentukan. Nilai terbaik menjadi tidak
berarti kalau anda dianggap sebagai orang yang tidak komunikatif dan
emosional.
Kondisi sepuluh tahun lalu mungkin berbeda dengan sekarang. Namun
saat itu tawaran beasiswa ke luar negeri yang tersedia untuk lulusan SMA
adalah ke Jepang untuk banyak bidang, dan Belanda untuk bidang ekonomi.
Belakangan ada tawaran beasiswa dari Singapura, namun tidak beasiswa
full dan informasinya tidak tersebar luas. Beasiswa ke Jepang sendiri
terutama dari Monbukagakusho melalui Kedutaan Besar menyediakan beberapa
jenis beasiswa untuk lulusan SMA dan untuk lulusan S1. (Lebih
lengkapnya lihat http://www.id.emb-japan.go.jp/scholarship.html) untuk
jelasnya. Dua hal yang perlu saya tekankan di sini, pertama adalah
sangat sulitnya untuk lulus Program S-1 untuk kedokteran umum dan
kedokteran gigi sehingga dianjurkan untuk memilih jurusan lain bagi yang
berminat dengan kedua jurusan itu. Kedua adalah, saya pribadi tetap
menganjurkan untuk mengambil program D-3 walau di Indonesia sudah
diterima di PTN-PTN ternama, karena setelah lulus D-3 kesempatan untuk
mendapatkan degree bisa diperoleh dengan melanjutkan kuliah selama 2
tahun ke Universitas (langsung tingkat 3). Apalagi kalau mengingat
begitu mahalnya biaya kuliah di Indonesia. Sebagai referensi, uang masuk
di universitas negeri di Jepang, sekitar 300.000 yen, sementara uang
kuliah satu semester 270.000 yen. Dibanding kuliah di luar negeri lain,
Amerika maupun Australia, biaya pendidikan di Jepang termasuk murah.
Belum lagi ditambah dengan adanya kemungkinan mendapat keringanan uang
sekolah di universitas negeri tertentu. Penulis sendiri mendapat
kemudahan bebas uang kuliah 100% selama lebih dari 3 tahun.
Untuk beasiswa program Pasca-Sarjanaa selain beasiswa Monbukagakusho
jenis G-to-G untuk pegawai negeri sipil dan jenis U-to-U untuk umum,
juga ada beasiswa Panasonic untuk program Master
http://www.panasonic.co.id/panasonic_scolarship/index.asp.
Beberapa hal yang mungkin menjadi pikiran saat mencari beasiswa untuk
kuliah di luar negeri adalah pertama apakah adanya perjanjian seperti
ikatan kerja setelah selesai program beasiswa. Beasiswa yang saya sebut
di atas, tidak ada yang memiliki ikatan kerja. Untuk beasiswa lain,
kalaupun ada perjanjian tertentu, tentunya penerima beasiswa yang sudah
lulus SMA maupun orang tuanya sudah cukup dewasa untuk mengerti arti dan
tanggung jawab sebuah akad/perjanjian dengan menyatakan kesanggupannya
menerima beasiswa tersebut. Catatan lain adalah tentang jurusan- jurusan
di universitas di Jepang, yang tentunya belum tentu sama dengan apa
yang ada di Indonesia, juga dengan tingkat kesulitan masing-masing
jurusan. Di kampus saya, untuk undergraduate course, Jurusan Fisika di
Fakultas Science adalah jurusan yang banyak diminati, dan tempat
berkumpulnya mahasiswa pandai yang berminat di bidang Science maupun
Engineering. Bisa kita bandingkan dengan jurusan Fisika di fakultas MIPA
di universitas-universitas di Indonesia yang kurang diminati.
Lulusan
Fakultas Science tentunya juga dapat masuk ke bidang-bidang Engineering
saat mencari kerja, dan juga sebaliknya. Sehingga kekhawatiran bahwa
lulusan Science sulit mencari kerja tentunya tidak terbukti. Apalagi
untuk negara seperti Jepang, dimana setiap perusahaan biasanya mempunyai
unit Research and Development yang tentunya membutuhkan lulusan dari
berbagai jurusan. Terakhir dan terutama mungkin, kekhawatiran untuk
memilih Jepang sebagai tempat studi memang beralasan. Tentunya karena
kesulitan bahasa Jepang yang menggunakan kanji itu sendiri. Namun untuk
masing-masing program beasiswa terutama untuk beasiswa Monbukagakusho,
biasanya juga mencakup studi bahasa Jepang yang cukup untuk dapat
mengikuti kuliah di universitas.
Tinggal di Jepang-NEXT
Jumat, 11 November 2011
Danardono Dwi Antono Mahasiswa Program Doktor di Tokyo University part 2
Posted by Admin on 05.01


0 komentar:
Posting Komentar